Keutamaan Berjalan Kaki Ke Masjid

Oleh Abu Muawiah

Dari Abu Hurairah  dari Nabi – alaihishshalatu wassalam- bahwa beliau bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ‏‎ ‎أَوْ رَاحَ أَعَدَّ اللهُ لَهُ‏‎ ‎فِي الْجَنَّةِ نُزُلاً‏‎ ‎كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ

“Barangsiapa menuju masjid pada waktu pagi hari atau sore hari maka Allah akan memberikan jamuan hidangan baginya di surga pada setiap pagi dan sore.” (HR. Al-Bukhari no. 148 dan Muslim no. 669)
Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ‏‎ ‎ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ‏‎ ‎بُيُوتِ اللهِ لِيَقْضِيَ‏‎ ‎فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ‏‎ ‎كَانَتْ خَطْوَتَاهُ‏‎ ‎إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً‏‎ ‎وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci dari rumahnya kemudian berjalan ke salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) untuk menunaikan salah satu dari kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan, maka kedua langkahnya salah satunya akan menghapus dosa dan langkah yang lainnya akan mengangkat derajat.” (HR. Muslim no. 1553)
Abu Hurairah  berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي‎ ‎الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى‎ ‎صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَفِي‎ ‎سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ‏‎ ‎ضِعْفًا وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا‎ ‎تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ‏‎ ‎الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى‎ ‎الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ‏‎ ‎إِلَّا الصَّلَاةُ لَمْ يَخْطُ‏‎ ‎خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ‏‎ ‎بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ‏‎ ‎بِهَا خَطِيئَةٌ فَإِذَا صَلَّى‎ ‎لَمْ تَزَلْ الْمَلَائِكَةُ‏‎تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي‎مُصَلَّاهُ اللَّهُمَّ صَلِّ‏عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ‏وَلَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي‎صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ
الصَّلَاةَ

“Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjama’ah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya, ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 131 dan Muslim no. 649)
Dari Abu Musa katanya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَعْظَمَ النَّاسِ‏أَجْرًا فِي الصَّلَاةِ‏أَبْعَدُهُمْ إِلَيْهَا مَمْشًى‎فَأَبْعَدُهُمْ وَالَّذِي‎يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ حَتَّى‎يُصَلِّيَهَا مَعَ الْإِمَامِ‏أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ الَّذِي‎يُصَلِّيهَا ثُمَّ يَنَامُ

“Manusia paling besar pahalanya dalam shalat adalah yang paling jauh perjalannya, lalu yang selanjutnya. Dan seseorang yang menunggu shalat hingga melakukannya bersama imam, lebih besar pahalanya daripada yang melakukannya (sendirian) kemudian tidur.” (HR. Muslim no. 662)

Penjelasan ringkas:
Di antara rahmat Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang beribadah, Allah tidak hanya memberikan pahala kepada mereka atas ibadahnya, akan tetapi Allah juga memberikan pahala pada semua perkara yang melengkapi dan menjadi wasilah dan sebab terjadinya ibadah tersebut, baik pelengkap tersebut berada sebelum ibadah itu maupun berada setelahnya.
Tatkala berjalan pulang balik masjid merupakan pelengkap dan wasilah ibadah di masjid, maka Allah Ta’ala juga memberikan pahala atas berjalannya sebagaimana Allah memberikan pahala atas semua ibadahnya di masjid. Bahkan pahala berjalan ke masjid sama pahalanya seperti ribath (berjaga di daerah perbatasan musuh). Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا‎يَمْحُو اللَّهُ بِهِ‏الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ‏الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلَى‎يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ:‏إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى‎الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ‏الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ‏وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ‏الصَّلَاةِ, فَذَلِكُمْ‏الرِّبَاطُ

“Maukah kalian aku tunjukkan atas sesuatu yang dengannya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudhu pada keadaan yang dibenci (seperti pada keadaan yang sangat dingin, pent.), banyak berjalan ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Maka itulah ribath, itulah ribath.” (HR. Muslim no. 251)
Adapun langkah pulangnya dari masjid, maka Allah Ta’ala juga menetapkan pahala baginya. Dari Ubay bin Kaab  dia berkata: “Ada seorang dari golongan sahabat Anshar yang saya tidak mengetahui seseorang pun yang rumahnya lebih jauh letaknya dari rumah orang itu jikalau hendak ke masjid, tetapi ia tidak pernah terlambat oleh sesuatu shalat (yakni setiap shalat fardhu ia mesti mengikuti berjamaah, pent.). Lalu dikatakan kepadanya, “Alangkah baiknya jikalau engkau membeli seekor keledai yang dapat engkau naiki di waktu malam gelap gulita serta di waktu teriknya panas matahari.” Dia menjawab, “Saya tidak senang kalau rumahku itu ada di dekat masjid, sesungguhnya saya ingin kalau jalanku sewaktu pergi ke masjid dan sewaktu pulang dari masjid untuk kembali ke tempat keluargaku itu dicatat pahalanya untukku.”
Maka Rasulullah  bersabda, “Allah telah mengumpulkan untukmu pahala kesemuanya itu (yakni waktu pergi dan pulangnya semuanya diberi pahala, pent.).” (HR. Muslim)
Melihat semua keutamaan di atas, maka hendaknya orang yang sanggup untuk berjalan kaki ke masjid, hendaknya dia tidak menggunakan kendaraan karena pahalanya tidaklah sama. Ini ditunjukkan oleh hadits Ubay bin Ka’ab di atas. Adapun keutamaan mendatangi masjid secara umum baik berjalan kaki maupun berkendara, maka telah kami sebutkan dalil-dalilnya di sini:
http://al-atsariyyah.com/?p=600

Sumber: http://al-atsariyyah.com

4 Tanggapan

  1. terus bagaimana kalau kita sudah memprediksi bahwa apabila kita berjalan kaki kita akan ketinggalan sholat berjama’ah/sholat berjama’ah ,sehingga kita memutuskan untuk menggunakan kendaraan agar cepat sampai ke masjid, apakah kemuliaan berjalan kaki dapat mengalahkan keutamaan sholat berjama’ah…..

  2. sebenarnya saya lebih senang berjalan kaki ke masjid. tetapi kondisi sekarang saya berdomisili di kampung yg umat muslim minoritas. banyak tetangga nonmuslim yang membiarkan anjing peliharaannya berkeliaran. sehingga saya lebih suka pake motor dengan pertimbangan untuk menghindari endusan anjing yang saya khawatirkan akan terkena tetesan liurnya. mohon inspirasinya..

    • Antum pertimbangkan manfaat & madharatnya, mana yg lbih besar. Jika sekiranya antum berjalan kaki tapi terancam dgn endusan anjing, lbih baik antum naik motor. Ingat kaidah “menghindari madharat lbih didahulukan dr mengambil manfaat. Wallahu ta’ala a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: