Siapa Yang Lebih Utama? Muadzin Atau Imam?

Oleh Abu Muawiah

Muazzin memiliki keutamaan (tersendiri) dan imam juga memiliki keutamaan (tersendiri). Termasuk dalil yang menerangkan tentang keutamaan muazzin adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya dari Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:
Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
اَلْمُؤَذِّنُوْنَ أَطْوَلُ‏‎ ‎النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ‏‎ ‎الْقِيَامَةِ
“Para muadzdzin adalah manusia yang paling panjang lehernya pada Hari Kiamat”.
Dan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhary dari Abu Sa’id Al- Khusry radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata kepada ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman bin Abi Sho’sho’ah Al-Anshory lalu Al- Maziny :
إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ‏‎ ‎الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ.‏‎ ‎فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ‏‎ ‎أَوْ باَدِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ‏‎ ‎بِالصَّلاَةِ فَارْفَعْ‏‎ ‎صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ,‏‎ ‎فَإِنَّهُ لاَ يَسْمَعُ مَدَى‎ ‎صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ‏‎ ‎وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ‏‎ ‎إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ‏‎ ‎الْقِيَامَةِ. قَالَ أَبُوْ‏‎ ‎سَعِيْدٍ : سَمِعْتُهُ مِنْ‏‎ ‎رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ‏‎ ‎عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Sesungguhnya saya melihat kamu menyenangi kambing dan (badiyah) pedalaman, maka jika kamu berada di antara kambing-kambingmu atau (badiyah) pedalaman lalu engkau mengumandangkan adzan maka angkatlah (baca : besarkanlah) suaramu dengan adzan tersebut, karena sesungguhnya tidaklah mendengar suara muadzdzin baik itu jin, tidak pula manusia dan tidak pula sesuatu apapun kecuali akan mempersaksikan untuknya pada Hari Kiamat. Abu Sa’id berkata : Saya mendengar hal ini dari Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam”.
Adapun keutamaan imam maka banyak perkara yang menunjukkannya, di antaranya bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam terus-menerus menjadi imam sepanjang hidup beliau dan demikian pula para khalifah beliau radhiallahu ‘anhum, (masuk) dalam keumuman firman Allah Ta’ala :
وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ‏‎ ‎إِمَامًا
“Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan : 74).
Maka yang dimaksudkan adalah bahwa imam memiliki keutamaan yang besar dan demikian pula muadzdzin memiliki keutamaan yang besar, dan masing-masing dari keduanya memanggul tanggung jawab yang wajib dia laksanakan dengan sebaik-baiknya. Dan Abu Hurairah telah meriwayatkan dari nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :
اَلِْإمَامُ ضَامِنٌ‏‎ ‎وَالْمُؤَذِّنُ مَؤْتَمَنٌ‏‎ ‎اَللَّهُمَّ أَرْشِدِ‏‎ ‎الْأَئِمَّةَوَاغْفِرْ‏‎ ‎لِلْمُؤَذِّنِيْنَ
“Imam adalah penanggung jawab dan muadzdzin adalah yang diberi amanah, Ya Allah berilah petunjuk kepada para imam dan ampunilah para muadzdzin”.

(Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Asy-Syaikh rahimahullah)

Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
اَلْمُؤَذِّنُوْنَ أَطْوَلُ‏‎ ‎النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ‏‎ ‎الْقِيَامَةِ
“Para muadzdzin adalah manusia yang paling panjang lehernya pada Hari Kiamat”.
Dan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhary dari Abu Sa’id Al- Khusry radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata kepada ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman bin Abi Sho’sho’ah Al-Anshory lalu Al- Maziny :
إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ‏‎ ‎الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ.‏‎ ‎فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ‏‎ ‎أَوْ باَدِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ‏‎ ‎بِالصَّلاَةِ فَارْفَعْ‏‎ ‎صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ,‏‎ ‎فَإِنَّهُ لاَ يَسْمَعُ مَدَى‎ صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ‏وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ‏إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ‏الْقِيَامَةِ. قَالَ أَبُوْ‏سَعِيْدٍ : سَمِعْتُهُ مِنْ‏رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ‏عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Sesungguhnya saya melihat kamu menyenangi kambing dan (badiyah) pedalaman, maka jika kamu berada di antara kambing-kambingmu atau (badiyah) pedalaman lalu engkau mengumandangkan adzan maka angkatlah (baca : besarkanlah) suaramu dengan adzan tersebut, karena sesungguhnya tidaklah mendengar suara muadzdzin baik itu jin, tidak pula manusia dan tidak pula sesuatu apapun kecuali akan mempersaksikan untuknya pada Hari Kiamat. Abu Sa’id berkata : Saya mendengar hal ini dari Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam”.
Adapun keutamaan imam maka banyak perkara yang menunjukkannya, di antaranya bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam terus-menerus menjadi imam sepanjang hidup beliau dan demikian pula para khalifah beliau radhiallahu ‘anhum, (masuk) dalam keumuman firman Allah Ta’ala :
وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ‏‎إِمَامًا
“Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”. (QS. Al-Furqan : 74).
Maka yang dimaksudkan adalah bahwa imam memiliki keutamaan yang besar dan demikian pula muadzdzin memiliki keutamaan yang besar, dan masing-masing dari keduanya memanggul tanggung jawab yang wajib dia laksanakan dengan sebaik-baiknya. Dan Abu Hurairah telah meriwayatkan dari nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :
اَلِْإمَامُ ضَامِنٌ‏‎وَالْمُؤَذِّنُ مَؤْتَمَنٌ‏اَللَّهُمَّ أَرْشِدِ‏الْأَئِمَّةَ وَاغْفِرْ‏لِلْمُؤَذِّنِيْنَ
“Imam adalah penanggung jawab dan muadzdzin adalah yang diberi amanah, Ya Allah berilah petunjuk kepada para imam dan ampunilah para muadzdzin”.

(Kumpulan Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Asy-Syaikh Rahimahullah).

Sumber: http://al-atsariyyah.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: