Shalat Tathawwu’ (Sunnah)

Ust. Abu Muawiah

Dari Rabiah bin Ka’ab Al-Aslami -radhiallahu anhu- dia berkata:
كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَقَالَ لِي سَلْ فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ قَالَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ قُلْتُ هُوَ ذَاكَ قَالَ فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ
“Saya bermalam bersama Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, lalu aku membawakan air wudhunya dan air untuk hajatnya. Maka beliau bersabda kepadaku, “Mintalah kepadaku.” Maka aku berkata, “Aku meminta bersabda,kepadamu agar aku menjadi teman dekatmu di surga.” Nabi “Bukan permintaan yang lain?”. Aku menjawab, “Bukan, itu saja.” Maka beliau menjawab, “Bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu dengan banyak melakukan sujud.” (HR. Muslim no. 489)
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلَاتِكُمْ وَلَا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا
“Jadikanlah (sebagian dari) shalat kalian ada di rumah kalian, dan jangan kalian jadikan dia (rumah kalian) sebagai kuburan.” (HR. Al-Bukhari no. 1187)
Dari Zaid bin Tsabit radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat tatkala mereka ikut shalat lail di belakang beliau di akhir-akhir bulan ramadhan:
قَدْ عَرَفْتُ الَّذِي رَأَيْتُ مِنْ صَنِيعِكُمْ فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ صَلَاةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الْمَكْتُوبَةَ
“Sungguh aku mengetahui apa yang aku lihat kalian melakukannya. Wahai manusia, shalatlah kalian di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalatnya seseorang yang dilakukannya di rumahnya, kecuali shalat wajib.” (HR. Al-Bukhari no. 689 dan Muslim no. 781)

Penjelasan ringkas:
Shalat merupakan amalan terbaik yang hamba mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengannya. Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa memperbanyak melakukannya merupakan sebab masuknya seseorang ke dalam surga. Beliau juga menganjurkan agar seseorang mengerjakan shalat sunnah ini di rumahnya, karena itu lebih menjauhkan dia dari riya’, menyembunyikan kebaikannya dari manusia, sebagai pengajaran kepada keluarganya, serta membiasakan mereka dalam mengerjakan shalat-shalat sunnah.
Dari hadits Ibnu Umar di atas bisa dipetik pelajaran bahwa kuburan bukanlah tempat shalat, karenanya rumah yang tidak pernah dipakai shalat di dalamnya diserupakan dengan kuburan. Sekaligus menunjukkan tidak bolehnya membaca Al-Qur’an di kuburan, karena di antara penamaan shalat adalah al-qira’ah (bacaan), karena al-qira’ah ini adalah rukun shalat.
Hadits Zaid di atas dijadikan dalil oleh sebagian ulama yang menyatakan lebih utamanya shalat tarawih di rumah dan bukan di masjid. Hal ini berdasarkan anjuran Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada para sahabat agar mereka shalat tarawih di rumah. Pendalilan ini cukup kuat, walaupun dalam masalah ini masih butuh pembahasan lebih dalam, wallahu a’lam.

Sumber : http://al-atsariyyah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: