Shalat Sunnah Rawatib

Ust. Abu Muawiah

Dari Ummu Habibah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
“Tidaklah seorang muslim mendirikan shalat sunnah ikhlas karena Allah sebanyak dua belas rakaat selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim no. 728)
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata:
حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ
“Aku menghafal sesuatu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berupa shalat sunnat sepuluh raka’at yaitu; dua raka’at sebelum shalat zuhur, dua raka’at sesudahnya, dua raka’at sesudah shalat maghrib di rumah beliau, dua raka’at sesudah shalat isya’ di rumah beliau, dan dua raka’at sebelum shalat subuh.” (HR. Al-Bukhari no. 937, 1165, 1173, 1180 dan Muslim no. 729)
Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan shalat sunnat empat rakaat sebelum zuhur dan dua rakaat sebelum shalat subuh”. (HR. Al-Bukhari no. 1183)
Ibnu Umar radhiallahu anhumaa pernah mengadakan perjalanan lalu berkata:
صَحِبْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أَرَهُ يُسَبِّحُ فِي السَّفَرِ وَقَالَ اللَّهُ جَلَّ ذِكْرُهُ: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ إِسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Aku pernah menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku tidak pernah melihat beliau melaksanakan shalat sunnah dalam safarnya. Dan Allah Jalla Dzikruh telah berfirman: “Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Ahzab 21). (HR. Al-Bukhari no. 1101)

Penjelasan ringkas:
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mensyariatkan shalat-shalat sunnah yang dikerjakan sebelum dan atau setelah shalat wajib. Beliau mengerjakannya secara berkesinambungan dan memotifasi umatnya agar mengerjakannya. Inilah keadaan beliau ketika muqim (tidak safar).
Adapun ketika safar, maka beliau shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mengerjakan shalat sunnah apapun kecuali shalat sunnah yang mempunyai sebab (seperti tahiyatul masjid) serta shalat 2 rakaat sebelum subuh dan shalat witir, karena beliau shallallahu alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan keduanya walaupun dalam keadaan safar. Gugurnya syariat shalat sunnah saat safar dikarenakan amalan dalam safar itu semuanya dipermudah atau ada keringanan. Jika shalat wajib saja ada keringanan dari 4 rakaat menjadi 2 rakaat (qasar), maka tentu saja shalat sunnah itu tidak disyariatkan untuk sebagai keringanan bagi musafir. Demikian yang diterangkan oleh para ulama.
Selengkapnya mengenai shalat sunnah rawatib, silakan baca artikelnya di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1864

Sumber : http://al-atsariyyah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: