Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah Sosok Ahli Hadits dari Kota Bukhara

Buletin Islam AL-ILMU Edisi: 19 / V / IX / 1432

Turkistan-Rusia (atau Transoksus) merupakan daerah yang sangat luas di wilayah Asia Tengah. Wilayahnya meliputi daerah antara Sungai Jaihun (kini: Sungai Amu Darya) dan Sungai Saihun (kini: Sungai Syra Darya) serta daerah-daerah yang berada di sekitarnya. Kedua sungai itulah yang menyuplai persediaan air di Danau Aral (bagian negara Uzbekistan dan Kazakhstan). Dalam sejarah, Turkistan-Rusia telah dikenal oleh bangsa Arab dahulu dengan sebutan daerah belakang (sebelah timur) Sungai Jaihun. Disebut dengan Turkistan-Rusia untuk membedakan dengan Turkistan-Cina yang kini bernama Sinkiang. Turkistan-Rusia kini terbagi menjadi 5 negara yaitu: Kazakhstan, Kirgistan, Uzbekistan, Tajikistan dan Turkmenistan. Dan Bukhara merupakan salah satu kota terpenting di negara Uzbekistan.

Bukhara adalah sebuah kota tua yang dikenal sebagai tempat wisata yang paling indah, memiliki kebun yang banyak dan luas serta buah-buahan yang menarik dan ranum rasanya. Kota ini berada di sebelah timur sungai Jaihun dengan jarak tempuh dua hari perjalanan. Dan berada di sebelah barat Samarkand (Uzbekistan) dengan jarak tempuh delapan hari perjalanan.

Kota ini telah melahirkan sosok ahli hadits yang cukup disegani semisal Al-Imam Al-Bukhari dan semisalnya.

Nasab Beliau

Tak kenal maka tak sayang, begitulah pepatah mengatakan. Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Ju’fi Al-Bukhari.

Beliau dilahirkan pada hari Jum’at tanggal 13 Syawal 194 Hijriyah di kota Bukhara.

Bardizbah berasal dari keturunan Persia dan beragama Majusi. Bardizbah dalam bahasa Persia bermakna orang yang suka bercocok tanam (petani).

Al Mughirah masuk Islam melalui tangan Yaman Al Ju’fi seorang penguasa Bukhara.

Oleh karena itulah Al Imam Al Bukhari disandarkan pula kepada Al Ju’fi.

Mengenai Ibrahim bin Al Mughirah, Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Tidak ada satu riwayat pun yang menjelaskan tentang keadaannya.” Adapun Isma’il ayah beliau, pernah meriwayatkan hadits dari Hammad bin Zaid dan Al Imam Malik serta sempat berjabat tangan dengan Abdullah Ibnul Mubarak. Kemudian orang-orang Irak meriwayatkan hadits dari Isma’il.

Perjalanan Menuntut Ilmu

Ayahnya wafat ketika beliau masih kecil, sehingga beliau dibesarkan dalam pangkuan ibunya.

Beliau mulai menghafal hadits sekitar umur 10 tahun di madrasah anak-anak (Kuttab).

Setelah itu, beliau belajar kepada seorang ahli hadits terkenal bernama Ad- Dakhili. Suatu hari Ad-Dakhili membacakan hadits kepada manusia:”…Sufyan (telah meriwayatkan) dari Abu Zubair, kemudian Abu Zubair (telah meriwayatkan) dari Ibrahim…” Maka beliau mengatakan kepada Ad-Dakhili: “Sesungguhnya Abu Zubair tidak pernah meriwayatkan dari Ibrahim.” Maka Ad-Dakhili marah kepada beliau. Beliau berkata kepada Ad-Dakhili: “Coba lihatlah kitab catatanmu!” Maka masuklah Ad-Dakhili ke rumahnya kemudian melihat kepada kitab catatannya, ternyata benarlah apa yang dikatakan oleh beliau. Selanjutnya Ad-Dakhili bertanya kepada beliau: “Bagaimana sanad yang benar wahai anak muda?” Maka beliau menjawab: “Dia adalah Az-Zubair bin ‘Adi meriwayatkan dari Ibrahim (jadi bukan Abu Zubair).” Ad-Dakhili meminjam pena kepada beliau dan membenarkan catatannya, kemudian mengatakan kepada beliau: “Kamu benar.”

Peristiwa itu terjadi pada saat beliau berusia 11 tahun.

Ketika usia 16 tahun, beliau telah menghafal kitab-kitab karya Abdullah bin Al-Mubarak, Waki’, serta berbagai pendapat ulama kota Ray.

Bahkan pada usia 18 tahun beliau menulis kitab yang berjudul “Qadhaya Ash Shahabah wat Tabi’in wa Aqawilihim”.

Memang semenjak kecilnya beliau telah sibuk menuntut ilmu. Beliau belajar kepada para ahli hadits di kota Bukhara seperti Muhammad bin Sallam Al-Bikandi, Muhammad bin Yusuf Al-Bikandi, Abdullah bin Muhammad Al-Musnadi dan Ibnul Asy’ats serta selain mereka.

Kemudian pada tahun 210 Hijriyah beliau pergi menunaikan ibadah haji ke kota Mekkah bersama ibu dan saudara laki-lakinya yang bernama Ahmad bin Ismail. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, sang ibu beserta Ahmad bin Ismail kembali ke kampung halaman. Sementara beliau tetap tinggal di kota Mekkah untuk menuntut ilmu. Di kota Mekkah belajar kepada Al-Humaidi dan selainnya. Kemudian di kota Madinah belajar kepada Abdul ‘Aziz Al-Uwaisi, Mutharrif bin Abdillah dan selain mereka. Di sanalah beliau menulis kitab yang berjudul “At-Tarikh”.Kemudian beliau melanglang buana ke berbagai negeri untuk menuntut ilmu kepada para ahli hadits seperti ke negeri Khurasan, Syam, Mesir, berbagai kota di Iraq dan berkali-kali beliau mengunjungi kota Baghdad.

Jumlah total guru-guru beliau mencapai 1080 orang.

Kisah Keajaiban Hafalan Beliau

Beliau dikenal memiliki kecerdasan dan kekuatan hafalan yang luar biasa.

Beliau mengatakan: “Aku hafal 100.000 hadits shahih dan 200.000 hadits dhaif.”

Suatu ketika beliau pernah mengambil sebuah kitab tentang ilmu kemudian kitab tersebut beliau amati mulai dari awal sampai akhir dengan sekali pengamatan, maka beliau telah menghafal semua hadits yang ada di dalamnya.

Hasyid bin Ismail dan selainnya menceritakan: “Dahulu Abu Abdillah Al-Bukhari belajar bersama kami kepada para ulama Bashrah, ketika itu beliau masih muda. Beliau tidak menulis hadits yang disampaikan oleh sang guru. Hal itu berlangsung selama beberapa hari. Maka kami berkata kepadanya: “Sesungguhnya engkau belajar bersama kami tapi engkau tidak menulis. Lalu apa yang kamu lakukan? Maka setelah berlalu 16 hari beliau berkata kepada kami: ‘Sesungguhnya kalian berdua terus-menerus mengeluhkanku. Coba tunjukkan kepadaku hadits yang telah kalian tulis!’ Maka kami tunjukkan kepada beliau hadits yang telah kami tulis. Kemudian beliau menambahkan 15.000 hadits (ke dalam catatan kami) yang dia bacakan dari hafalannya sampai kami membenarkan catatan kami dari hafalan beliau.

Dikisahkan pula suatu ketika Al-Imam Al-Bukhari singgah di kota Baghdad. Begitu mendengar kedatangan beliau, para ahli hadits kota Baghdad berkumpul dan bermusyawarah untuk menyambut kedatangan beliau. Akhirnya diambillah kesepakatan untuk menguji kekuatan hafalan beliau. Kemudian para ahli hadits mengumpulkan seratus hadits. Seratus hadits tersebut diacak, baik matan maupun sanadnya. Setelah itu, dibagikan kepada sepuluh orang ahli hadits, sehingga masing-masing membawa sepuluh hadits.

Singkat cerita tibalah saat yang dinantikan. Manusia pun berkumpul untuk menyaksikan acara tersebut. Mulailah salah seorang penguji menyampaikan hadits satu per satu kepada Al-Bukhari. Tatkala sang penguji menyampaikan hadits pertama, Al-Bukhari menyatakan tidak tahu. Sampai penguji pertama selesai menyampaikan sepuluh hadits, Al-Bukhari tetap menjawab: “Tidak tahu.” Para ahli hadits yang hadir dalam acara tersebut terlihat saling memandang satu sama lain seraya berkata: “Laki-laki ini benar-benar mengetahui.” Sedangkan orang-orang yang awam justru menyangka sebaliknya yaitu Al-Bukhari tidak tahu apa-apa. Kemudian tiba giliran penguji kedua. Mulailah ia menyampaikan sepuluh hadits satu per satu. Dan Al-Bukhari tetap menjawab, “Tidak tahu.” Demikian seterusnya penguji ketiga, keempat sampai penguji kesepuluh telah menyampaikan seluruh haditsnya, Al-Bukhari tetap menjawab: “Tidak tahu.” Kemudian Al-Bukhari mengatakan kepada penguji pertama: “Hadits pertama yang engkau bacakan adalah demikian dan demikian maka yang benar adalah demikian dan demikian.” Demikianlah Al-Bukhari menyebutkan kembali hadits tersebut persis sama seperti yang dibacakan oleh sang penguji, kemudian beliau membenarkan letak kesalahannya. Beliau melakukan hal ini mulai dari hadits pertama sampai hadits keseratus. Manusia pun mengakui akan kehebatan hafalan beliau.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:

“Semua orang menunduk di hadapan Al-Bukhari, yang menakjubkan dari beliau bukan pada sisi kemampuan membenarkan hadits yang salah karena beliau memang seorang penghafal hadits. Namun yang menakjubkan adalah kemampuan beliau menyebutkan kembali hadits-hadits yang telah diacak tadi secara tertib dan urut hanya dengan sekali dengar.”

Ibadah dan Akhlak Beliau

Para ulama Bashrah mengatakan: “Tidak ada di dunia ini orang yang seperti Muhammad bin Ismail Al-Bukhari dalam masalah ilmu dan akhlak.”

Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli mengatakan kepada penduduk Naisabur ketika Al-Bukhari berkunjung ke negeri Naisabur: “Pergilah kalian kepada laki-laki yang shalih tersebut dan dengarlah hadits darinya.”

Al-Husain bin Muhammad As Samarqandi berkata: Muhammad bin Ismail Al-Bukhari dikhususkan dengan tiga sifat terpuji: sedikit berbicara, tidak rakus terhadap sesuatu yang ada di tangan manusia, tidak sibuk dengan urusan orang lain dan seluruh kesibukan beliau adalah dalam masalah ilmu.”

Sulaiman bin Mujahid berkata: “Belum pernah aku melihat dengan mata kepala sendiri semenjak 60 tahun yang lalu orang yang paling faqih, paling wara’ dan paling zuhud di dunia daripada Muhammad bin Ismail.”

Al-Imam Al-Bukhari mengkhatamkan Al-Qur’an setiap siang hari di bulan Ramadhan. Kemudian di waktu malam harinya beliau mengkhatamkannya setiap tiga malam sekali pada waktu shalat Tarawih. Beliau rajin melaksanakan shalat malam sebanyak 13 rakaat pada waktu sahur setiap hari.

Suatu hari beliau diundang dalam satu keperluan di kebun milik muridnya. Kemudian beliau melaksanakan shalat dhuhur dan shalat sunnah bersama mereka. Maka tatkala selesai dari shalat, beliau mengangkat ujung pakaiannya kemudian berkata kepada seseorang: “Tolong lihatlah apakah ada sesuatu di bawah pakaianku?” ternyata seekor kumbang besar telah menyengat beliau sebanyak 16 atau 17 sengatan. Yang menyebabkan bengkak pada tubuh beliau. Kemudian ada seseorang yang berkata kepada beliau: “Mengapa engkau tidak membatalkan shalat ketika kumbang tersebut mulai pertama kali menyengat?” Kata beliau: “Aku saat itu sedang membaca surat, dan aku tidak ingin memutus surat tersebut.”

Beliau pernah mengatakan: “Aku tidak lagi berbuat ghibah kepada seorangpun semenjak aku mengetahui bahwa perbuatan ghibah akan membahayakan pelakunya.”

Karya Tulis Beliau

Beliau banyak menghasilkan karya tulis dalam berbagai disiplin ilmu. Diantaranya:

1. Al-Jami’ Ash Shahih Al-Musnad Min Haditsi Rasulillah wa Sunanihi wa Ayyamihi atau Shahih Al-Bukhari.

Ini adalah sebuah kitab kumpulan hadits yang berisi hadits-hadits yang shahih. Beliau menyusun kitab ini selama 16 tahun. Tidaklah beliau mencantumkan satu hadits dalam kitab tersebut kecuali beliau mandi terlebih dahulu kemudian shalat dua rakaat.

1. Al-Adab Al-Mufrad
2. Raf’ul Yadain fi Shalat
3. Al-Qira’ah Khalfa Al-Imam
4. Khalqu Af’alil ‘Ibad
5. At-Tarikh Al-Kabir dll.

Wafat Beliau

Beliau pernah mengalami ujian yang berat dalam hidupnya. Ceritanya adalah ada sebagian orang yang iri dengan kelebihan yang Allah Ta’ala berikan kepada beliau. Maka mereka pun menyebarkan isu bahwasanya beliau memiliki keyakinan yang mengarah kepada pendapat “Al-Qur’an adalah makhluk”, sebuah keyakinan yang kufur. Beliau akhirnya mengalami beberapa kali pengusiran mulai dari daerah Naisabur, Bukhara dan terakhir Khartanka. Beliau hadapi semua itu dengan penuh ketabahan, dengan tidak melakukan reaksi apapun.

Suatu malam beliau pernah berdoa: “Ya Allah sesungguhnya bumi yang luas ini telah terasa sempit bagiku, maka matikanlah aku.” Tidak sampai sebulan setelah itu beliau meninggal dunia. Beliau meninggal pada malam Sabtu bertepatan dengan malam Idul Fitri seusai shalat ‘Isya´. Dan dikuburkan pada keesokan harinya setelah shalat dhuhur pada tahun 256 Hijriyah di desa Khartanka bagian dari kota Samarkand. Beliau wafat pada usia 62 tahun. Semoga Allah merahmati beliau rahimahullah, dan memasukkannya ke dalam Al-Jannah (Surga). Amin.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Kalau seandainya pintu pujian para ulama belakangan terhadap beliau dibuka, niscaya akan menghabiskan lembaran kertas dan menghabiskan nafas manusia, karena yang demikian merupakan lautan yang tiada batas.”

Wallahu a`lam bishshawab.

_______________________________________________________________

Referensi:

1. “Siyar A’lamin Nubala” Al-Imam Adz-Dzahabi, Mu´assasah Ar Risalah hal 391 – 470
2. “Al-Imam Al-Bukhari wa Kitabuhu Al-Jami’ Ash-Shahih” Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad
3. “Ta’rif Bil A’lam Al-Waridah fi Al-Bidayah wa An Nihayah li Ibni Katsir” -Maktabah Asy-Syamilah

1. “Mu’jam Al-Buldan”
2. “Atsar Al-Bilad wa Akhbar Al-Ibad”
3. “Sirah Al-Imam Al-Bukhari”, karya Asy-Syaikh Abdus Salam Al-Mubarakfuri

Sumber : http://www.assalafy.org/mahad/?p=584

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: