Nikmat Yang Terlupa

Ketika terbaring sakit, kita sering berjanji pada diri sendiri. “Nanti kalau sembuh, aku akan shalat malam lebih rajin, akan menggenapkan shalat Rawatib, atau akan puasa Senin Kamis.” Tapi apa yang terjadi ketika kita benar-benar sehat? Ternyata kadang-kadang kita lupa. Kita tetap jarang shalat malam, sering meninggalkan shalat Rawatib, dan malas puasa Senin Kamis. Padahal kita berpengalaman, bahwa ketika sakit, rasanya sungguh sengsara. Makanan seenak apapun yang ditawarkan membuat kita semakin tersiksa. Tidak berselera. Tidur pun tak kalah meresahkan. Mata enggan terpejam karena sibuk menghalau sakit di badan yang tak kunjung sembuh.

Demikianlah manusia. Kenikmatan yang biasa diperoleh, baru benar-benar akan dirasakan saat kenikmatan itu Allah cabut darinya. Nikmat sehat baru terasa ketika sakit. Padahal banyak sekali nikmat dan tak terhitung yang telah Allah anugerahkan kepada kita setiap detik. Nikmat yang Allah tahu kita sangat membutuhkannya. Yang kita minta maupun yang tidak kita pinta. Dan Subhanallah, semakin kita membutuhkan suatu nikmat, Allah mudahkan kita memperolehnya. Semakin kita membutuhkannya, maka semakin murahlah harganya, semakin terjangkau untuk kalangan.

Garam misalnya. Pernahkah kita merenungkan nikmat yang satu ini? Lauk berupa sate kambing, ayam goreng, telur dadar, maupun tempe penyet, dijamin semua nggak nikmat tanpa peran garam ini. Harga garam lebih murah daripada daging kambing, ayam, telor, maupun tempe penyet. Mengapa? Karena garam lebih dibutuhkan daripada itu semua.

Demikian juga dengan air. Air lebih dibutuhkan manusia daripada susu, es jeruk, es teh, atau minuman lainnya. Maka Allah murahkan harga air dibandingkan minuman lainnya. Lebih dari itu, Allah cuma-cuma untuk hal-hal yang memang manusia sangat-sangat membutuhkannya dan nggak bisa hidup tanpanya.

Siapa yang bisa hidup tanpa udara? Siapa yang bisa bertahan tanpa hangatnya sinar mentari? Yaa Subhanallah. Allah gratiskan udara, Allah berikan hangatnya sinar matahari secara cuma-cuma.

Belum lagi nikmat organ tubuh. Baru-baru ini salah seorang adik sepupu saya meninggal dunia karena gagal ginjal. Berbulan-bulan berjuang melawan penyakitnya. Hanya berteman keringat dingin dan galaunya hati saat jarum-jarum menusuk tubuhnya untuk cuci darah. Itu pun harus merelakan puluhan juta melayang hanya untuk sekedar menyambung hidup tak pasti. Musibah tak dapat ditolak, untung tak tentu diraih. Suatu pagi di hari Jum’at, Allah memanggilnya untuk kembali pada-Nya selamanya. Selesai sudah hidupnya hanya karena tidak berfungsinya satu organ kecil dalam tubuhnya.

Alhamdulillah, Allah memberikan kepada kita tubuh yang sehat. Dua mata yang bisa kita gunakan untuk melihat dan membaca ayat-ayat Allah. Dua telinga yang bisa kita gunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah.

Lisan untuk mengungkapkan perasaan kita. Tangan, kaki, bahkan rambut, dan kuku, semua merupakan pemberian dari Allah yang jarang sekali manusia mengingatnya bahwa itu adalah nikmat.

Namun, sebesar dan sebanyak apapun nikmat yang telah Allah anugerahkan, masih saja ada dari kalangan hamba-Nya yang enggan untuk menyadari dan mensyukurinya. Hampir-hampir setiap keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya selalu dikeluhkan. Mengeluh tentang panasnya cuaca, turunnya hujan, macetnya jalanan, dan sebagainya. Bagaimana seorang hamba akan bisa bersyukur dengan yang banyak, jika yang sedikit saja dia tidak syukuri?

Dari An Nu’man bin Basyir Radhiyallahu’anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Barang siapa tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.”
[HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shahihah no.667.

Wajar bila Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisyaratkan bahwa manusia banyak mengingkari nikmat, sebagaimana Allah firmankan :
“Dan Dialah Allah yang telah menghidupkanmu, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (lagi), sesungguhnya manusia itu, benar-benar sering mengingkari nikmat.” [Q.S. Al Hajj : 66]

Pengingkaran manusia atas nikmat Allah, karena sempitnya mereka dalam memaknai nikmat. Kebanyakan manusia mengartikan nikmat ataupun rezeki dengan bentuk materi. Rezeki dan nikmat Allah amatlah luas dan tidak selamanya identik dengan uang. Panas maupun dingin, terik maupun hujan, kesehatan, anak, istri, keshalihan, hidayah, semua itu pun rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu sebagai seorang muslim, sudah selayaknya kita selalu berusaha untuk bersyukur atas segala nikmat. Karena Allah janjikan, jika manusia mensyukuri nikmat-nikmat, maka justru akan ditambah lagi dan ditambah lagi dari nikmat tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb kalian memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'” [Q.S. Ibrahim : 7].

Diisyaratkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwa nikmat yang seringkali dilupakan manusia adalah kesehatan dan kesempatan atau waktu luang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” [H.R. Al Bukhari no. 6412, dari Shahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu].

Benar kan? Disaat sakit baru sadar mengapa ketika sehat kita nggak melakukan ini dan itu. Dan juga disaat sibuk, repot, dan banyak kerjaan, kita menyesal mengapa kita tidak memanfaatkan dengan baik waktu senggang yang terlewat. Itulah manusia. Baru menyadari sebuah nikmat ketika kenikmatan itu tercabut darinya.

Padahal Allah senantiasa mencukupi seluruh kebutuhan kita. Baik yang kita pinta maupun yang kita lalai memohon pada Allah. Andai kita dan seluruh manusia bersatu untuk membuat daftar nikmat Allah, niscaya kita tidak akan pernah menyelesaikannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan Dia telah memberi kepada kalian (keperluan kalian) dari segala apa yang kalian mohonkan kepada-Nya. Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah kalian dapat menghitungkannya. Sesungguhnya manusia itu sangat lalim dan banyak mengingkari (nikmat Allah).” [Q.S. Ibrahim: 34].

Oleh karena itu saudaraku yang mulia, jangan pernah mengeluh. Kenikmatan dan kemudahan yang ada di depan kita sudah sangat banyak. Boleh saja kita menangis saat musibah atau bencana menghampiri. Namun jadikan air mata kita sebagai penghapus dosa-dosa dan kesalahan kita. Bukan sekedar meratapi nasib. Seberat apapun musibah yang menimpa seorang hamba, pada saat yang sama Allah mengirimkan kemudahan-kemudahan-Nya. Percayalah, hidup ini sangat singkat. Bukankah saudara-saudara kita, orang-orang yang tadinya ada di sekeliling kita satu per satu diwafatkan oleh Allah? Jadikan hidup singkat kita bermakna. Caranya, sandarkan pada Allah saja segala sesuatunya. Ikuti perintah-Nya, jauhi larangan-Nya. Mudah-mudahan Allah senantiasa memberi kita jalan lapang untuk kita menuju surga-Nya. Sesungguhnya sebaik-baik penolong adalah Allah semata. (eko_prast)

[Sumber: majalah Tashfiyah edisi 14 vol.02 1433H-2012M hal.75-78]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: