Jaga Qalbumu

Hadirnya qalbu ketika bermunajat dalam shalat akan terus menguat selama seorang hamba mampu mengalahkan syahwat dan nafsunya. Terkadang, qalbu terkalahkan dengan syahwat dan tertawan oleh hawa nafsu. Akhirnya syaithan pun mampu menundukkan dan menguasainya. Jika syaithan telah menang, tidak mungkin seorang akan selamat dari bisikan dan was-was sesatnya.

Qalbu ada tiga macam:

Pertama, qalbu yang kosong dari keimanan dan seluruh kebaikan, qalbu yang hitam pekat. Syaithan telah menang dan beristirahat dari melemparkan bisikan-bisikan sesat padanya. Karena ia telah menjadikan qalbu tersebut sebagai rumah dan tempat tinggalnya, ia mampu mengaturnya sekehendak apa yang ia inginkan.

Kedua, qalbu yang telah diterangi cahaya iman dan dinyalakan lentera-lentera keimanan. Akan tetapi masih memiliki kegelapan syahwat dan keinginan hawa nafsu. Syaithan datang dan pergi dalam qalbu yang seperti ini. Ia tidak mampu menguasainya secara penuh. Peperangan antara keduanya pun terus berlangsung. Keadaan qalbunya selalu berubah-ubah. Di antara mereka ada yang mampu mengalahkan musuhnya dalam waktu lama. Sebagian lain sebaliknya. Ada juga yang tidak menentu, terkadang ia mengalahkan musuhnya, tetapi ia pun mampu dikuasai musuhnya.

Ketiga, qalbu yang terisi penuh dengan keimanan. Qalbu ini benderang dengan cahaya keimanan di dalamnya. Hawa nafsunya telah tercerai berai. Kegelapan-kegelapan qalbu pun telah sirna. Keberadaan cahaya iman di dalam dadanya mampu menghasilkan pancaran keimanan. Pancaran yang kuat dan mampu memadamkan segala sesuatu yang mendekatinya. Seandainya was-was dan bisikan-bisikan syaithan berusaha mendekatinya, maka langsung terbakar seketika. Seperti halnya langit yang selalu dilindungi oleh panah-panah api. Jika ada syaithan yang berusaha mendekatinya, maka panah api itu dengan segera mengejar dan membakarnya saat itu juga.

Keadaan langit tidaklah lebih utama dan mulia dari pada keadaan seorang mukmin. Penjagaan Allah terhadap jiwa seorang mukmin pastilah lebih sempurna dari penjagaan-Nya terhadap langit. Langit adalah tempat peribadahan para malaikat dan tempat menetapkan wahyu. Di dalam langit terhadap cahaya-cahaya ketaatan. Sementara hati seorang mukmin adalah tempatnya tauhid, ibadah, pengetahuan, dan keimanan. Di dalamnya terpancar cahaya-cahaya itu semua. Maka hati yang seperti ini keadaannya lebih pantas untuk lebih dijaga dan dilindungi dari makar tipu daya musuhnya.

Ada sebuah permisalan. Ada tiga buah rumah. Rumah yang pertama adalah rumah seorang raja yang di dalamnya terdapat harta benda dan kekayaannya. Rumah yang kedua milik seorang rakyat biasa yang terdapat harta hamba tersebut. Rumah yang terakhir adalah rumah kosong yang tidak ada isinya sama sekali. Ketika datang seorang pencuri, rumah siapakah yang akan ia datangi? Mustahil dan tidak mungkin seorang pencuri mendatangi rumah yang kosong, karena tidak ada sesuatu di dalamnya. Oleh karena itulah, ketika ada seseorang berkata kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa orang-orang Yahudi mengaku mereka tidak pernah merasa was-was di dalam shalat mereka, maka Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma menyanggahnya, “Apakah syaithan mau mengurusi rumah yang telah rusak, kosong dari harta keimanan?”

Selanjutnya, jika rumah yang didatangi pencuri itu adalah rumah raja, itu mustahil dan tidak mungkin. Karena pasti rumah tersebut dijaga ketat. Si pencuri tak mungkin mampu mendekatinya. Bagaimana ia mampu mendekatinya jika ternyata raja itu sendiri yang menjaganya. Bagaimana ia mampu mendekatinya sementara di sekitar rumah itu terdapat penjagaan tentara dan pasukan berlapis dari sang Raja. Maka tidak tersisa selain rumah yang kedua, satu-satunya rumah yang menjadi target utama si pencuri.
Hendaknya seorang yang cerdas benar-benar menghayati permisalan ini dan menetapkannya di dalam qalbunya.

Qalbu yang kosong dari segala bentuk kebaikan adalah qalbu orang kafir dan munafik. Inilah rumah syaithan. Syaithanlah yang memelihara, menguasai sepenuhnya, dan telah menjadikannya sebagai tempat tinggal yang ia menetap di dalamnya. Lalu, apa yang akan dicuri dari rumah ini sementara di dalamnya terdapat semua harta syaithan, bisikan-bisikannya, keragu-raguannya, khayalan-khayalan kosongnya, dan was-wasnya.

Qalbu selanjutnya, adalah qalbu yang penuh dengan pengagungan kepada Allah, cinta kepada-Nya, selalu merasa diawasi oleh-Nya, dan selalu merasa malu kepada-Nya. Nah, apakah syaithan berani nekad untuk mengganggunya? Jika ia ingin mencuri, apa yang akan ia curi? Yang mampu ia lakukan hanyalah mencuri-curi sedikit apa yang ada di dalamnya ketika hamba ini terjatuh dalam kelalaian, lupa, dan tidak sadar, hal-hal yang seorang manusia pasti akan terjatuh di dalamnya.

Yang terakhir adalah qalbu yang di dalamnya terdapat tauhid, ilmu pengetahuan, keimanan, dan pembenaran terhadap seluruh janji serta ancaman-Nya. Tetapi, di dalamnya juga terdapat bisikan syahwat, jeratan hawa nafsu, dan tabiat aslinya. Qalbu ini pun berbolak-balik antara keduanya. Terkadang ia cenderung dan condong kepada ajakan keimanan, ilmu pengetahuan, cinta kepada Allah, dan sikap hanya berharap pada-Nya. Terkadang pula ia lebih condong kepada ajakan syaithan, hawa nafsu, dan tabiat asalnya. Qalbu yang seperti ini syaithan sangat berharap untuk mampu menguasai sepenuhnya. Ia pun mengambil peran untuk menggelincirkannya. Akan tetapi, Allah pun memberi kemenangan kepada siapapun yang Ia kehendaki. “Tiada kemenangan melainkan berasal dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Q.S. Ali Imran:126].

Syaithan tidak mampu mengatur qalbu ini kecuali jika memiliki senjata yang dapat membantunya. Dan ternyata, senjata-senjata tersebut ada dalam diri manusia ini. Yaitu berupa syahwat, syubhat (kerancuan berfikir), angan-angan kosong, dan khayalan-khayalan hampa yang ada di dalam qalbunya. Dengan senjata inilah syaithan mampu mengalahkan musuhnya. Jika syaithan masuk dan mendapati senjata-senjata tersebut ada, maka ia pun segera menyerangnya. Namun, jika hamba tersebut memiliki persenjataan iman yang memadai dan lebih kuat dari pada senjata yang dimiliki syaithan, kemudian ia gunakan untuk bertempur melawan syaithan, syaithan pun akan mundur dari qalbunya. Akan tetapi jika ia tidak memilikinya, maka syaithan mampu mengalahkannya. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Jika seorang hamba telah mengizinkan syaithan, membukakan pintu untuknya, mempersilakannya masuk, dan menyerahkan senjata yang ia butuhkan untuk berperang dengannya, maka kehinaan yang akan ia dapatkan. Wallahu a’lam. [Sufyan Alwi].

[Diterjemahkan secara bebas dari kitab Al Wabilush Shayyib karya Al Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah].

[Sumber majalah Tashfiyah edisi 14 vol.02 1433H-2012M hal. 95-99]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: