Tidak Mungkin Dua Hal Berbeda Berkumpul

Suatu tempat akan menerima kehadiran sesuatu apabila ia kosong dari lawan sesuatu tersebut. Begitu juga halnya hati. Manakala ia penuh berisikan keyakinan yang batil dan cinta kepadanya, maka ia tidak akan ditempati oleh keyakinan yang haq dan kecintaan terhadapnya, sebagaimana halnya juga lidah. Jika ia sibuk dengan pembicaraan yang tiada berguna, maka kata-kata yang bermanfaat pasti tidak mengisi bibirnya kecuali setelah bibir dan lidah itu hampa dari ucapan batil itu. Dan anggota badan, manakala sibuk dengan kegiatan kemaksiatan, pasti akan dijauhi oleh amal dan ketaatan. Maka hati yang berisikan mahabbah ‘cinta’ kepada selain Allah dan penuh dengan ketertambatan kepada makhluk, pasti tidak akan dimasuki oleh mahabbah kepada Allah.
Apabila kalbu seorang penuh dengan perhatian kepada ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat, maka tidak akan bercokol padanya perhatian kepada Rabbnya dan kepada ilmu-ilmu yang berguna, baik yang berkenaan dengan asma’ dan sifat-sifat Allah maupun hukum-hukum-Nya. Mengapa demikian? Karena, hal itu seperti telinga. Kalau ia tidak mau mendengar kepada pesan-pesan Allah, maka pesan-pesan Allah itu tidak masuk ke dalamnya dan tidak akan memahaminya. Bila kalbu mengingat selain Allah, maka dzikrullah tidak mempunyai tempat padanya sebagaimana halnya lisan. Oleh karena itu, dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Sungguh! Bagian tubuhmu diisi oleh nanah sampai muntah karenanya adalah jauh lebih baik daripada diisi oleh syair-syair.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang sejenis dengan syair adalah berbagai keraguan, aneka khayalan, pandangan-pandangan berupa kesalahpahaman dalam agama dan impian-impian mustahil serta berbagai ilmu yang tidak bermanfaat, termasuk lelucon dan lawak-lawak yang tidak berguna. Ketika hati seseorang dipenuhi oleh hal-hal di atas, maka ketika Al-Qur’an dan ilmu-ilmu yang berguna datang padanya, Al-Qur’an dan ilmu-ilmu tersebut tidak menemukan tempat, akhirnya pergi darinya. Sebuah nasihat tidak akan menetap di hati apabila ia telah dihuni oleh lawannya. [Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullah dalam Al-Fawaaid]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: