8 Kunci Untuk Meraih Ketenangan Hidup

Ustadz Abu Nasim Mukhtar

Syaqiq Al Balkhi(1) pernah bertanya kepada Al Hatim Al Asham(2), “Engkau telah hidup bersamaku selama beberapa lama. Apa saja yang telah engkau pelajari?”

Al Hatim menjawab, “Ada delapan pelajaran:

1. Aku memerhatikan kehidupan orang. Ternyata, setiap orang memiliki kekasih. Namun, sesampainya di kubur, sang kekasih meninggalkan dirinya. Maka, aku ingin menjadikan amal kebaikan sebagai kekasihku, agar ia selalu menemaniku di dalam kubur.

2. Aku merenungi firman Allah:

“Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.” [Q.S. An Nazi’at:40].

Maka, aku pun berjuang untuk menahan diri dari keinginan hawa nafsu, sehingga benar-benar mapan untuk mewujudkan ketaatan kepada Allah.

3. Aku menyaksikan, setiap orang yang memiliki barang berharga, pasti ia akan menjaganya. Kemudian, aku merenungi firman Allah:

“Apa yang dari sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” [Q.S. An Nahl:96]

Maka, setiap kali aku memiliki barang berharga, aku selalu menyerahkannya kepada Allah, agar tetap kekal di sisi Nya untukku.

4. Aku menyimpulkan, orang-orang selalu menilai kemuliaan dengan harta, keturunan, maupun kedudukan. Padahal, semua itu tidak bernilai sedikitpun. Kemudian, aku merenungkan firman Allah:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” [Q.S. Al Hujurat:13]

Maka, aku pun mewujudkan ketaqwaan agar menjadi mulia di sisi Allah.

5. Aku mengamati orang-orang senang berbuat hasad. Kemudian, aku meresapi makna firman Allah:

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” [Q.S. Az Zukhruf:32].

Maka, aku pun meninggalkan hasad.

6. Aku meneliti, orang-orang senang bermusuhan. Kemudian, aku menyelami makna ayat Allah:

“Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh kalian.” [Q.S. Fathir:6].

Maka, aku pun tidak memusuhi mereka, lalu aku menjadikan syaithan saja sebagai musuh.

7. Aku menilik kehidupan orang, ternyata mereka menghinakan diri untuk sekedar hidup. Kemudian, aku merenungi firman Allah:

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” [Q.S. Hud:6]

Maka, aku menyibukkan diri untuk melaksanakan tugas sebagai hamba lalu aku menyerahkan rizki kepada Nya.

8. Aku memerhatikan orang-orang, mereka menggantunkan harapan pada perniagaan, kerja keras, dan kesehatan tubuh. Adapun aku, menggantungkan harapan sepenuhnya kepada Allah.

[Sumber: Mukhtashar Minhajul Qashidin hal 17-18]

1) Al Imam Az Zahid Syaikh Khurasan Abu Ali Syaqiq bin Ibrahim Al Azdi Al Bakhi, murid senior Ibrahim bin Adham. Gugur dalam medan pertempuran Kulan 194 H.
2) Al Imam Az Zahid Al Qudwah Abu Abdirrahman Hatim bin ‘Unwan bin Yusuf Al Bakhi. Beliau bergelar Al Ashamm yang berarti Si Tuli. Kisahnya, ada seorang wanita menyampaikan sebuah pertanyaan kepada beliau. Tiba-tiba terdengar wanita tersebut buang angin, sehingga wamita itu menjadi malu. Hatim Al Ashmamm lalu berujar, “Angkat suaramu!” Beliau mengesankan seolah dirinya kurang baik pendengarannya agar rasa malu si wanita tersebut hilang. Sejak itu beliau digelari Si Tuli. Wafat pada tahun 237 H.

[Sumber: Majalah Qudwah Edisi 01 vol-01/1433H/2012 hal.83-84 judul asli “8 Kunci Untuk Hidup Tenang”]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: